Beranda Ekonomi Mengapa Bandara Buleleng Sangat Riskan di Darat

Mengapa Bandara Buleleng Sangat Riskan di Darat

418
0

Oleh : KS Wendra

WACANA pembangunan bandara Internasional di Bali Utara, tepatnya di Kubutambahan, Buleleng terus bergulir. Banyak kalangan menilai wacana pembangunan bandara Bali Utara ini sarat kepentingan politik. Akibat besarnya kepentingan politik di dalamnya membuat rencana ini sampai detik ini belum jelas juntrungan.
Pemerintah belum berani mengeluarkan penlok. Konon wacana ini sudah bergulir hampir lima tahun lalu. Dasar pemikiran mengapa bandara ini perlu segera diwujudkan, dan harus di Bali Utara, tidak lain untuk menyeimbangkan pembangunan Bali, yang selama ini terkonsentrasi di Bali Selatan. Sebelum ditentukan di Kubutambahan, wacana ini dulu pernah digulirkan di Negara, tetapi entah mengapa kemudian mengerucut ke Buleleng. Di sini pun masih terjadi tarik ulur soal tempatnya, apakah di Gerokgak atau di tempat lain. Apakah pembangunan bandara baru, ataukah mengembangkan bandara Wisnu yang sudah ada.
Singkat cerita wacana pun kemudian mengecut di Kubutambahan , Buleleng. Tidak selesai sampai di sana, wacana ini kemudian terus bertambah apakah di darat atau di laut. Dalam konteks ini, ada dua calon investor yang ingin inves di sini, Pembangunan Bali Mandiri (PBR) atau PT BIBU Panji Sakti.
Sampai detik ini wacana antara darat dan laut pun terus bergulir, tidak hanya itu kesiapan investor dalam sisi pendanaannya pun menjadi tanda tanya. Yang jelas, PT BIBU menurut penilaian Gubernur Bali Mangku Pastika, adalah investor yang paling siap, baik konsep maupun dananya. Soalnya dana PT BIBU dibeckup investor yang tergabung dalam konsorsium AKC, sedangkan pihak PBR sampai saat ini dananya dinilai belum jelas.
Dalam beberapa kali pertemuannya dengan awak media, Gubernur Bali Drs Made Mangku Pastika saat itu, lebih condong memilih sebaiknya bandara Bali Utara itu dibangun di laut, karena berbagai pertimbangan itulah kemudian Mangku Pastika mengeluarkan rekomendasi yang mengusulkan kepada pemerintah pusat agar membangun Bandara Buleleng ini di laut atau tepi pantai. Alasannya sangat sederhana dan masuk akal. Menurut Made Mangku Pastika, pembangunan bandara di laut minim resiko. Yang terpenting, pasti tidak akan ada penggusuran lahan sabur yang ada di kawasan Kubutambahan. Tidak hanya itu, juga tidak akan terjadi penggusuran pemukiman, pura pura besar dan situs bersejarah yang ada di daerah ini. Gubernur Made Mangku Pastika saat itu mengatakan, siapa berani jamin di atas lahan 400 hektar itu tidak ada penggusuran. Masalahnya, kata Mangku Pastika untuk membangunan bandara baru di Kubutambahan dibutuhkan lahan paling sediikit 400 -600 hektar, dimana cari lahan seluas itu di sana. Dan di laut kan semuanya tersedia. Juga tidak bising, Kalau di daerat banyak sekali masalah yang akan ditemui, kata Mangku Pastika.
Nah, begitu Dr Wayan Koster menjadi Gubernur Bali, wacana di laut ditarik lagi ke darat. Yang menjadi masalah adakah jaminan pembangunan bandara di darat tidak ada masalah. Tanah yang diklaim pihak investor di darat milik desa adat Kubutahan, setelah dicek ternyata sudah disewakan ke pihak ketiga. Luas tanah ini memang luasnya sekitar 400 hektar, masalahnya maukah pihak yang sudah mengantongi hak kontrak itu mau begitu saja menyerahkan lahan itu kapada pihak investor?
Pembebasan lahan di sekitar lahan bandara pastilah tidak mudah, lebih-lebih harga tanah di sana sudah meroket. Sanggupkah investor membeli lahan seluas 400 – 600 hektar. Masalah pastilah akan rumit sekali, jika di darat.
Siapkah investor dengan dananya, inilah masalah terbesar dalam proyek raksasa ini.
Mau di darat atau di laut bandara ini, kata kuncinya jangan sampai merugikan masyarakat. Sebab dalam aturan ada disebutkan lahan untuk bandara harus miliki pribadi, bukan dikontrak.
Semoga semua lancer! Bali Maju, Bali Makmur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here