Beranda Jabar Satu Keluraha Tinggal DiGubuk Layaknya Kandang Ayam

Satu Keluraha Tinggal DiGubuk Layaknya Kandang Ayam

5
0

Penulis : Asep NK

KARAWANG, jabarkini.net – Kemiskinan membuat orang tinggal dimana saja untuk bisa bersama keluraga, Seperti keluarga Abas Basari (48) warga Desa Gempol, Kecamatan Banyusari, Karawang, harus tinggal digubuk layaknya kanadang ayam supaya tidak tidur dijalanan

Bersama sang istri bernama Yoyoh (28) , dia tidur di dalam sebuah gubuk bambu layaknya kandang ayam yang ukurannya cuma 3X2 meter diatas tanah negara milik PJT II, mereka juga memiliki 3 orang anak. Si sulung Tita Solihah (6 ) di, adiknya Hamdan sakuron (4 ) dan si bungsu masih balita Ahmad Rifai (1,5)

Abas Basari , Pria yang sehari-hari mencari rezeki dengan mangayuh becak ini harus berjuang keras untuk keluarganya, untuk bisa membawa makanan atau uang buat menghidupi istri dan tiga anaknya supaya bisa makan.

“Sehari-hari mengayuh becak dipasar, penghasilan tidak menentu, ” kata Abas, Rabu (11/9) saat ditemui di tempat tinggalnya.

Abas menceritakan, penghasilannya sebagai tukang becak sangat memprihatinkan. Bahkan kadang, Dia pulang tanpa membawa uang sepeserpun maka tak bisa makan dan hanya makanan sisa buat anak-anaknya.

“Kalau tidak membawa uang untuk beli makanan anak-anak tidak makan, “terangnya.

Karena kesulitan ekonomi inilah, Abas Basari dan keluarga tak sanggup membangun rumah layak huni . Atau pun menyewa rumah. Karena tak ada tempat tinggal, dia pun meminta ijin pada pengelola tanah negara untuk bisa tinggal dibantaran akses jalan Gembongan untuk tinggal di tanah milik negara dengan membangun sebuah gubuk yang terbuat dari bambu sekelilingnya seperti pagar.

“Baru tinggal tiga bulan, setelah memdapat ijin baru membangun, “katanya.

Abas dalam membangun gubuk menggunakan bambu-bambu bekas kandang ayam sebagai rumahnya. Dinding terbuat dari sarigsig bambu sekelilingnya tanpa ada kamar.

Kalau malam tiba, Abas dan istri tidur berdempetan dengan ketiga anak mereka di dalam satu ruangan terbuat dari kayu bekas , diĀ gubuk dengan alas kain usang yang kerap dipakai main buat tiga anak-anaknya pada siang hari. Bukan itu saja, mereka pun harus rebahan ditempat yang sama dikala ngantuk. Selembar kain lusuh saja yang melindungi tubuh mereka dari dinginnya tanah dan udara malam. Meskipun begitu, Abas bersama keluarga tak protes dan hanya menerima keadaannya.

“Harus bagaimana lagi, karena faktor ekonomi terpaksa tinggal ditempat seperti layaknya kandang ayam, ” kata Yoyoh menimpali.

Dari pantauan, gubuk terbuat dari kayu tanpa didinding, tampak helaian kain sebagai penutup untuk mengurangi rasa dingin, perabotan yang ada hanya alat masak dan piring, sendok. Tanpa ada penerangan listrik, memasak juga masih mengandalkan kayu bakar sisa -sisa potongan di luar gubuk.

Satu keluarga ini mengaku tidak pernah tersentuh program pemerintah untuk masyarakat miskin baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

“Tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah, ” lirih Abas.(jk3)

Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here