Beranda Ekonomi Merawat Indonesia Dengan Cinta

Merawat Indonesia Dengan Cinta

28
0

Oleh: Hadi M Musa Said

Jabarkini.net – KENAPA kita harus Istiqomah ber-NU dan merawat Indonesia dengan cinta? Hari ini kita perlu untuk menguatkan Indonesia lebih kuat lagi, ini bukan sekedar soal perebutan kekuasaan, tapi penting bagi Indonesia siapa yang berkuasa dan mengelolanya, dengan kondisi Indonesia hari ini, betapa fitnah, hoax.

Caci maki begitu dominan didunia persilatan medsos yang tidak terkontrol oleh siapapun, satu akun bodong yang menghujat ditertibkan atau dihapus bahkan pengelolanya dilaporkan dan ditangkap, seribu akun bodong muncul dengan wajah baru semakin seporadis dan masif, dengan segala cara mengadu domba semua anak Bangsa atas nama Agama, Ras, golongan, suku, etnis dan lainya.

Sekali lagi ini bukan soal kekuasaan sesaat dan semata mata, harus ada yang memastikan kebersamaan kita dalam keindonesiaan dan kebangsaan di Nusantara ini kita terjaga dengan baik, siapapun yang berkuasa dan memenangkan hajatan lima tahunan, tentu rakyat yang akan memutuskan dan menjadi hakim yang adil seadil-adilnya.

Indonesia dengan segala corak, warna dan keberagamanya, adalah keindahan yang harus dijaga bersama sama. Sekali lagi saya pastikan ini bukan soal kekuasaan walaupun harus dipastikan yang berkuasa yang bisa menjaga Keindonesiaan kita, dan NU selama ini sudah biasa diluar kekuasaan.

Selama orde baru 32 tahun lebih NU dan warga NU diluar kekuasaan, bahkan di marginalkan alias dipinggirkan dan sekali lagi tidak masalah buat Jamiyyah NU, karena waktu itu ancaman terkait ideologi negara dan bentuk negara bisa diatasi, artinya NU masih memandang hal itu belum membahayakan walaupun tentu pada sisi yang lain juga belum ada kemajuan yang signifikan, misal sektor ekonomi, politik, hukum, sosial, dan kesenjanganya, sebenarnya semua sektor akan sangat berhubungan seperti mata rantai yang tidak mungkin saling terpisah tapi seharusnya saling mendukung,

NU harus menjaga merawat dan melestarikan tradisi Indonesia dengan khas Islam Nusantara yang Rahmatan lil Alamin. Islam nusantara tidak perlu dimaknai berlebihan sebagai ajaran baru, golongan baru, aliran baru, bahkan ada yang bilang sesat menyesatkan.

Islam NUsantara ya Islam Ahlussunah wal jama’ah Annahdhiyah, Islamnya orang NU yang masih suka dan hoby tahlilan, marhabaan, muludan, rajaban, ziarah qubur, baca Al Qur’an, tadarusan, yang mengikuti ajaran para Ulama, loh kan di zaman Rosulullah tidak ada berarti itu bid’ah, haram sirik, lah muka kita (muka ente) di zaman Nabi juga tidak ada apakah itu bid’ah,

Beragamalah dengan cinta jangan dengan marah, sibuk marah-marah-in orang lain yang berbeda dengan kita sampai berbusa busa, ahirnya tidak berkembang ilmu Agama dan ilmu pengetahuannya.

Pertanyaannya, apakah kita semua ini, bahkan Ulama hari ini jauh lebih hebat, lebih baik, lebih pintar, lebih alim, Lebih santun, lebih tawadu’, lebih keren dengan Ulama terdahulu para penyebar Islam contoh walisongo dan para pendiri NU, Muhamadiyah dan lainya dan misalkan mau dibanding-bandingkan, kalau menurut saya sih jauh, kita semua belum ada apa-apanya, dari segala sudut pandang, baik keilmuanya, keahlian lainya, bahkan cara nenuntut ilmunya, tirakatnya atau cara beribadahnya, kita ini belum ada apa-apanya

Itulah jawaban sederhananya kenapa kita harus mengikuti ulama, kalau kata Abah Cipulus, KH Adang Badruddin Pengasuh Ponpes Al Hikamussalafitah Cipulus Purwakarta, “Ulama NU Mawa, Urang NU Milu” Ulama yang membawa kita yang mengikuti.

Contoh kecil, kita naik bus dengan bus yang sehat artinya waras tidak rusak dan sopirnya ahli tenang, santun, tidak ugal-ugalan pasti kita merasa aman dan nyaman dan percaya kita akan sampai tujuan dengan selamat, tentu jangan lupa terus berdoa dan meminta perlindungan dari Allah SWT

Jelas disini kita harus yaqin dan meyakini bahwa mengikuti para Ulama di NU itu artinya kita mengikuti ajaran Rosulullah SAW yang di wariskan kepada para Ulama, ini bukan hal yang main-main, dan tradisi ini sudah dijalani ratusan tahun dengan damai dan tentram di Bumi Nusantara ini.

Kalau hari ini ada sekelompok orang yang teriak teriak kembali ke Al Qur’an dan Hadist tanpa tabayun dengan yang dituduh bid’ah itu telat, lah dari dulu Jam’iyyah Ahlussunah wal jamaah Annahdhiyah sudah baca Qur’an setiap hari, ada yang hafalan dan menjadi hafidz dan hafidoh ribuan bahkan pondok pondok pesantren khusus Alqur’an ribuan juga, soal hadis di pesantren diajarkan tiap hari Kiai nya membacakan hadist bahkan ada yang hafal ratusan bahkan ribuan, lah ini baru hafal satu dua hadis sudah menyalahkan sana sini, bid’ahkan orang lain, berani berfatwa dan menyalahkan orang semaunya, mungkin perlu sedikit di kasih minum brotowali campur potas biar sadar, dan memuntahkan kengawuranya.

Mari kita semua ber-Indonesia dengan Cinta dan ikhlas, biar negeri ini damai dan tentram, Indonesia adalah rumah buat semua golongan, etnis, Agama, suku, dan Bahasa dan dengan keberagaman itulah Indonesia menjadi Negara yang hebat, kuat dan tetap mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Selanjutnya bisa dipahami kenapa warga NU terutama GP ansor, Banser begitu gigih mempertahankan keutuhan NKRI, Jawabanya cuma satu, ini warisan dan Amanah para Sesepuh Ulama, Kiai, Ajengan, Ustadz yang juga sudah disepakati oleh semua tokoh Agama pada waktu Memerdekakan Bangsa ini, tugas kita menjaga bukan memecahbelah, merawat bukan merusak, Melestarikan bukan menghilangkan, menguatkan persatuan bukan melemahkan apalagi membubarkan, selsmat malam dan mimpi indahlah tentang Indonesia Karena Indonesia adalah milik dan untuk anak cucu kita.(jk3)

Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here