Beranda NASIONAL Bade Tumpang Pitu Diarak Menyisiri Pantai Menjadi Tontonan Wisatawan

Bade Tumpang Pitu Diarak Menyisiri Pantai Menjadi Tontonan Wisatawan

2
0
BERBAGI
Prosesi ngarak Bade tumpang pitu yang menyisiri pantai pada puncak upacara ngaben massal Desa Adat Karangsari, Nusa Penida, Minggu (7/7) kemari.

Penulis : Made Arnawa

BALI, Jabarkini.net – Desa Adat Karangsari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung menggelar prosesi Upacara Pitra Yadnya (Ngaben) massal, Minggu (7/7) kemarin. Upacara lima tahunan ini berjalan aman dan lancar. Uniknya, Bade (wadah) tumpang pitu (tujuh) yang tingginya mencapai 9 meter ini diarak menyisiri pantai. Meskipun melewati rintangan air laut, namun krama Desa Adat Karangsari bahu membahu mengangkat Bade yang berisi 48 Sawe tersebut hingga jarak 400 meter menuju tempat pembakaran.

Menariknya, prosesi ngarak Bade yang diiringi tabuh Baleganjur dan Tabuh Angklung ini tidak hanya disaksikan masyarakat Nusa Penida, namun menjadi tontonan para wisatawan yang sedang berlibur di Pulau yang dijuluki The Blues Paradise Island ini.

Sebelum upacara puncak digelar, tiga hari sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan ritual Ngebet Sawe di Kuburan Pura Dalem Lempuyang Desa Adat setempat. Bahkan, sehari sebelumnya telah dilakukan ritual ngendagin kuburan dengan memercikkan Tirta suci agar upakara Ngebet berjalan lancar.

Selain itu, dua hari sebelum puncak ngaben massa juga telah dilaksanakan ritual melaspas Kajang, dan sehari setelahnya dilaksanakan upacara Mapeed dan ritual Ngeringkes.

Ketua Panitia Ngaben Massal, Mangku Gede I Nyoman Dunia, mengatakan walaupun yadnya pengabenan ini sebagai kewajiban masing-masing warga, namun karena terbentur pendanaan, maka Desa Adat Karangsari yang terdiri dari 3 bajar (Banjar Pupuan, Banjar Karangsari dan Banjar Pidada) ini merancang kegiatan Ngaben Masal ini sekaligus sebagai wujud kebersamaan dan gotong royong dalam menyama braya. Hal ini untuk meringankan biaya yang dikeluarkan warga utamanya warga yang kurang mampu. Masing-masing warga yang memiliki Sawe dikenakan biaya secara urunan.

Meskipun, Ngaben Masal digelar untuk meringankan biaya yang dikeluarkan warga, namun pada pelaksanaannya tetap berpatokan dengan duase (Hari baik) dengan harapan agar seluruh rangkaian yadnya Ngaben Masal yang dilaksanakan bisa menemukan keselamatan tanpa ada hambatan, baik secara sekala maupun niskala. “Terima kasih krama titiang sareng sami (warga Desa Adat Karangsari semuanya-red) upacara ngaben massal hari ini (kemarin) berjalan lancar,”syukurnya.

Selain itu, pada hari yang sama juga digelar upakara ngerapuh atau ngelungah bagi ibu ibu yang pernah abortus atau bayinya meninggal semasih dikandungan. Dalam upakara Ngerapuh ini sifatnya untuk mengantar roh yang masih suci ini dengan langsung menghanyut sekah warga yang mengikuti Ngerapuh kelaut. Harapannya agar roh mereka kembali bersatu dengan Sang Hyang Widi Wasa.

Seluruh rangkaian upacara Ngaben Massal dipuput oleh Ida Rsi Bhagawan Dharma Cadhu Siddhi dari Griya Suka Yadnya Desa Adat Karangsari.(jk3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here